Langsung ke konten utama

Pengalaman Dating Sama Cowo Belanda

foto dari situs iStock
foto dari situs iStock

Salah satu hal pertama yang saya lakukan setibanya di Belanda adalah mengunduh aplikasi kencan atau istilah bahasa Inggrisnya adalah Dating App.
Aplikasi yang saya unduh ada beberapa, seperti Badoo, Happn, Tinder, dan ada juga yang lain yang saya udah lupa namanya.


Setelah beberapa saat menggunakan aplikasi-aplikasi kencan tersebut, saya memutuskan kalau aplikasi yang namanya Badoo itu lebih cocok untuk saya. Dari aplikasi tersebut saya ketemu banyak cowok Belanda. Dan dari pengalaman bertemu banyak cowok tersebut, saya bisa menyimpulkan kalau saya lebih suka gaya pacaran laki-laki Indonesia.
Postingan kali ini akan 100% subjektif, jadi pengalaman yang para pembaca punya atau akan rasakan mungkin jauh berbeda dengan pengalaman saya.


Setelah mengunjungi beberapa negara di Eropa, saya bisa dengan percaya diri bilang kalo cowok-cowok di Belanda itu not at all average looking. Mereka sangat fashionable dan charming. Selain itu, mereka juga punya fisik yang bagus, badan tinggi, mata biru, rambut pirang, dan hidung mancung yang melelehkan jiwa. Aduh! Tapi ingat ya, ini cuma generalisasi saja karena masih banyak laki-laki yang tampang, fisik dan gaya berpakaiannya biasa aja. Dan sejujurnya cowok-cowok yang ajak saya nge-date juga gak semua OK dan sesuai tipe saya, meski tinggi badan mereka tidak pernah mengecewakan alias tinggi.


Balik lagi ke cerita pengalaman saya soal kencan dengan cowok Belanda, sebagian cowok Belanda menurut saya terlalu berani dan agresif. Mereka gak ragu buat sentuh cewek di area tubuh yang sensitif meski baru pertama kali kamu bertemu. Kadang mereka nyosor-nyosor aja minta ciuman, dan kalau ditolak kontak kamu di hp mereka malah diblok, dan ini kejadian ke saya! Haha

Tapi gak semuanya gitu kok! Beberapa dari mereka juga sangat sopan dan sangat menghormati kamu sebagai perempuan. Which is the first good sign, kalau kamu memang mau pacaran serius dengan cowok sana. Cowok yang nyosor-nyosor itu menurut saya sih cowok yang cuma pengen "have fun." They're probably just a horny animal trying to manipulate women! Dan perlu diingat, kalau siapapun menyentuh kamu tanpa izin, apalagi di bagian tubuh yang menurut kamu ga nyaman untuk disentuh, kamu bisa laporkan tindakan tersebut sebagai pelecehan seksual. So, be careful out there, ladies!!!


Salah satu hal yang perlu kamu tau tentang kencan dengan cowok Belanda (atau mungkin dengan cowok di belahan bumi mana pun), kamu bisa aja jalan sama cowok-cowok itu tiap minggu, tapi jangan harap kamu akan dipanggil pacar. Ternyata buat orang Belanda dating itu beda dengan hubungan berlabel boyfriend-girlfriend. Ini juga saya alami dengan cowok yang bilangnya sih cinta sama saya and honestly, it hurt me. Jadi, saat kamu mau punya hubungan serius dengan cowok Belanda, komunikasikan apa ekspektasi dan tujuan kamu dan apa yang mereka mau dari hubungan tersebut. Apakah cuma penjajakan aja tanpa ada niatan untuk ke tahap serius, pacaran yang tingkatannya lebih serius, atau sekedar teman jalan? Intinya jangan baperan dan be straightforward with what you want!


Terakhir soal stereotype tentang orang Belanda yang bayar makan masing-masing pas kencan alias "going Dutch" itu ternyata gak selalu benar. Saat saya jalan dengan cowok-cowok itu, mereka selalu bayarin makan saya, tapi saat saya bilang saya bisa bayar sendiri mereka gak nolak dan keukeuh kalau mereka yang akan bayar. Di Belanda kesetaraan gender sangat dijunjung tinggi. Cewek punya kerja dan gak bergantung dengan dompet cowok dan menuntut mereka untuk bayarin ini itu buat kamu. Kenapa? Karena mereka gak mau kamu kencan atau pacaran sama mereka dengan perasaan kalau kamu dibayar buat sama mereka. I honestly think it's a good thing for us ladies to not be too dependent on men.


Sebetulnya banyak sih pengalaman yang ingin saya ceritakan soal pengalaman kencan dan perbedaan kultur kencan di Belanda dan di Indonesia, tapi nantinya postingan saya malah berisi curhatan kegagalan hubungan saya dengan si cowok Belanda ini. Despite spending my whole stay in the Netherland being with him. Tapi kegagalan saya dengan orang ini, mengajarkan saya untuk cari cowok yang gak seperti dia, haha. Jadi gimana menurut kalian? Apa kalian punya pengalaman sama seperti yang saya ceritakan?


See you in the next post!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Yagami Ramen House di Simpang Dago Bandung

Terletak di simpang Dago Bandung, Yagami Ramen House ini ternyata lumayan terkenal dan banyak pengunjungnya. Saya baru tau setelah beberapa kali datang ke tempatnya lho! Jamnya banyak pengunjung datang itu sekitar jam 4 sore sampai malem, jadi kalo mau makan di Yagami Ramen House datengnya agak siangan, biar santai pilih kursi buat makan. Menu makanan disini lumayan banyak dan rasanyaaaa... kamu coba sendiri deh! Hehe Harga yang ditawarkan oleh Yagami Ramen House bervariasi, dimulai dari sekitar Rp. 10.000 sampai Rp. 45.000 yang belum termasuk pajak 10%. Lumayan murah lah untuk kantong mahasiswa diawal bulan. Haha Ini adalah menu ramen dengan berbagai pilihan topping yang bisa kamu pilih Ini adalah menu nasi yang disedakan oleh Yagami Ramen House Untuk tempatnya, Yagami Ramen House memberikan tiga suasana berbeda, ada tempat yang khusus buat grup, ada juga tempat yang khusus buat orang dateng sendirian (yang kursi dan mejanya kaya bar itu), ada juga tempat yang khus...

"An Important Point About Raising Children"

So, I really really like surfing internet and use social media real often. One day I found an instagram account with username annah_hariri , she posted a photo but I forgot what it was. The interesting one was what she wrote as its caption, though she also took it from al-Qawl al-Mufeed 'Alaa kitaab al-Tawheed 2/423. Thus, I want to share it with you all, in hoping it could help us all to raise our children to be a great child. Ps: For those who don't understand English, I will do my best to translate it. Saya akan coba terjemahkan posting ini ke bahasa Indonesia. Taken from: http://raisingchildren.net.au/ "An Important Point About Raising Children" By al-'allaamah Muhammad ibn Saalih al-'Uthaymeen (الله رحمه): "Children should be taught rulings with their evidences. Eg: If you want to say to your child: 'mention the name of Allaah upon eating and praise Allaah when you've finished,' if you say that, then you have achieved you...

First Words

Ini postingan pertama saya di sini. Udah berapa kali ya nulis gitu tiap bikin blog? Iya, ini bukan blog pertama yang saya buat, udah ada 3 blog lain yang saya biarin gitu aja, ga keurus, dan dijual ga laku-laku. :( Jadi kenapa saya memutuskan untuk membuat blog baru dan yang lama dibiarin aja, dianggurin? Jreeeeng..... Hari ini adalah hari pertama saya nulis lagi di blog setelah setahun lebih ( terus hubungannya apa?) , jadi tadi kebetulan iseng pengen baca blog lama dan tulisannya aneh-aneh gitu, tulisan ala anak yang baru dewasa, yang baru lulus umur 17. Haha :p Nah, setelah baca blog lama tea saya jadi baper, jadi kangen nulis, saya baru sadar kalo nulis itu seru banget dan saya dengan teganya udah ninggalin nulis. :"( Tulisan di blog lama bukannya ga bagus, cuma aneh aja kalo dalam satu blog bahasanya ada yang pake gue-elu, ada yang pake aku-kamu, atau saya-anda. Jadinya kan kayak nggak konsisten, gara-gara itu lah blog ini jadi. :D Berhubung ini tulisan pertama say...